Tampilkan postingan dengan label Dunia Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Wanita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2009

Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?



Cantik adalah istilah bagi seorang wanita yang memiliki paras menawan, berkulit putih, tubuh semampai, berambut terurai, dan penuh pesona. Kriteria itu sudah merekah bagi kebanyakan orang  ………..
ehm sedihnya aku tak termasuk criteria itu:f:f

Ehm ga penting yah, kita lanjutkan pembahasannya.

Dari judulnya pasti kita berkaca-kaca apakah kita termasuk wanita-wanita yang menjadi salah satu pilihan para ikhwan ataupun lelaki yang menjadi pendamping hidupnya. Tapi di pembahasan posting kali ini, kita akan memaparkan kondisi aktual para ikhwan dalam mempersepsikan wanita-wanita calon pendampingnya. Saya mengambil artikel tersebut dari sebuah situs Islam yang ini dan saya kembangkan dengan bahasa saya sendiri. Pastinya tanpa mengurangi esensi dari pembahasan tersebut. Ok kita lanjutkan…


Kecantikan sudah lumrah menjadi salah satu daya tarik yang memikat setiap lelaki. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri!
Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?

Wahai sahabat saudariku,.. jangan bersungut ataupun bersedih dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang.

Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia.

Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:

wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1

Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2

Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu pilihlah wanita karena keshalihahannya.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:

Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan.

Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”

Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.

Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.

Sumber:
- Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006.
- Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.


Read More.. »»

Selasa, 30 Juni 2009

Mengapa Harus Berbohong Tentang Umur…


Seringkali saya memperhatikan banyak wanita yang secara sengaja memperlihatkan dirinya yang berbeda dengan biasanya, yang ditonjolkan dengan cara bicara dan berpakaian. Saya secara jujur kurang simpatik ketika banyak wanita-wanita yang sudah diatas saya, yah bisa dibilang menjadi orang tua saya berpakaian sangat minim, ketat dan berbicara tidak bertutur lembut melainkan cuek dan kasar.
Walaupun mengupayakan diri untuk menjadi pribadi yang bisa diterima oleh semua umur tidak dengan cara mengubah yang semestinya menjadi teladan anak-anak yang melihat dan memperhatikannya.

Lingkungan sosial dimana kita berada akan selalu menyimpulkan sesuatu tentang diri kita, termasuk umur kita sekaligus mengharapkan kita berprilaku sesuai dengan kesimpulan mereka tentang umur klender yang mereka perkirakan sudah kita lalui. Dan seringkali mau tidak mau kesimpulan mereka tersebut justru menjadi salah satu sumber tekanan sosial tertentu.
Kita tampil sering terpaksa dan harus tampil dan berprilaku sebagai seseorang dalam usia/tahap perkembangan tertentu yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin kita tampilkan dan apa yang sebenarnya mampu kita tampilkan.

Banyak kasus dari wanita-wanita yang secara sengaja menampilkan dirinya lebih muda dari sepantar umurnya. Tentunya banyak penyebab perempuan seolah dituntut untuk berbohong tentang umur sebagai berikut :

Pertama, bisa disebabkan oleh tuntutan karier, karena pada kenyataanya diskriminasi umur sangat berperan dalam seleksi karyawati. Banyak perkerjaan yang lebih mengutamakan penampilan fisik daripada kemampuan intelektual dan kebijakan, sehingga sering aspek kemampuan dan pengalaman tidak menjadi pertimbangan, dan seleksi karyawati.
Muda, cantik, langsing, menarik, sedikit genit dan sedikit kemampuan verbalisasi sering menjadi modal awal seseorang untuk cepat mendapatkan perkerjaan. Tuntutan kualifikasi berdasar diskriminasi umur ini memang tidak terlampau berlaku pada pria, sehingga hal ini lebih banyak mengena pada perempuan.


Kedua, perempuan mungkin saja merasa nyaman dengan umur 40 tahun lebih, namun mereka akan meresa pada umur tersebut tubuh dan penampilan fisiknya maka keputusan untuk operasi plastic, menghilangkan kerutan muka, dan sebagainya dengan berbagai upaya dilakukan.


Ketiga, perempuan terpaksa berbohong dalam hal umur karena banyak hal yang hilang pada perempuan oleh bertambahnya umur. Hal ini terkait dengan kecenderungan social untuk lebih menempatkan aspek kemudaan dan karakteristik penampilan fisik perempuan tertentu sebagai komoditas.
Banyak iklan yang menawarkan krim perawat kulit guna menghindarkan diri dari keriput, krim pemutih kulit, pil pelangsing tubuh dengan menggunakan peragawati muda usia yang cantik, langsing dan berkulit putih sebagai modal iklannya. Kondisi ini membuat keadaan seperti seolah tidak ada tempat bagi orang yang sudah berumur, berbadan besar, gemuk, apalagi bila sekaligus ia juga berkulit hitam.
Maka berlomba-lombalah para perempuan mendatangi salon kecantikan untuk mengubah bagian fisik agar paling tidak mendekati kualifikasi penampilan fisik seperti “harapan” lingkungan social tersebut.


Terlepas dari keprihatinan para wanita yang berbohong, tentu saja dengan berjalannya waktu kita tidak dapat terhindar dari pertimbangan umur, maka kebohongan-kebohongan lanjut akan harus kita lakukan. Karena, disamping harus berupaya keras mempertahankan perilaku dan penampilan yang tidak selaras dengan umur yang sebenarnya, makin kita akan juga terjerumus dalam peristiwa social yang tidak mengenakkan.
Mengapa? Karena sikap konsisten terhadap perilaku dan menampilkan di bawah umur sebenarnya membutuhkan energi mental yang tidak sederhana. Ketegangaan emosional yang menyertai upaya keras tersebut sering membuat kita justru mengalami kegagalan dalam bersikap dan berprilaku kemudaan-kemudaan tersbut secara konsisten. Hal ini akan membuat justru perilaku kita tampak lucu dan tidak wajar, bahkan cenderung “bloon’ (stupid). Contohnya kita yang sering diolok-olok oleh sekeliling kita.

Jadi mengapa kaum perempuan harus berbohong tentang umur?

Yang patut dan seyogyanya dipelajari oleh kaum perempuan adalah memisahkan antara siapa dirinya dan bagaimana penampilan fisiknya. Ketahuila, keyakinan diri kita akan berkembang dari kebohongan akan umur. Biarkanlah umur bertambah, dan banggalah akan pertambahan umur katakanlah 50 tahun, kita akan menjadi lebih baik, lebih matang serta lebih berpengalaman daripada saat kita berusia 25 tahun.

Keterpakuan dan pemusatan perhatian yang berlebihan serta secara berlanjut berupaya keras berpenampilan muda, justru akan menghambat optimilisasi fungsi potensi mental kita yang positif dan bahkan merampas keyakinan diri kita akan dasar kematangan alami yang sebenarnya telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Dengan demikian, kita akan merasa lebih baik dan lebih percaya diri karena tidak perlu harus merasa tetap muda dalam penampilan fisik.

Pancaran dari rasa percaya diri akan terungkap pada penampilan fisik yang lebih selaras dan perilaku yang terintegrasi kepribadian yang mengagumkan. Adalah lebih baik mengakui umur sebagaimana adanya dengan keyakinan diri serta perawatan fisik selaras, maka kita dapat tampil segar dan sehat seolah masih di bawah umur kalender kita, daripada sebaliknya.



Read More.. »»

Kamis, 18 Juni 2009

Wanita.......


Wanita pada dasarnya punya jiwa yang labih banget, bahkan mereka memiliki moment tertentu untuk labil, secara rutin. Yup, masa-masa haid adalah salah satunya. Kelabilan itu akan kian mengental saat ditodong pertanyaan mengenai pernikahan……

Menurut saya, wanita memiliki tiga masa dalam hal ini ;
perihal penantian tanpa kepastian tentang hari dimana seseorang hadir meminangnya, kedatangan pangeran berkuda sembrani yang akan ditemaninya menempuh liku-liku kehidupan dan penantian berupa impian dan harapan yang selalu menghantui ketentraman batinnya. Ibarat peluru yang selalu siap memberondong setiap saat “kapan, nih?’ atau perasaan sedih yang menggayuti wajahnya di saat satu persatu sahabat mengirim undangan.


Pada masa awal ketika wanita berumur 20-24 tahun. Disaat seorang perjaka memberanikan dirinya memintanya menjadi permaisuri di kerjaan cinta. Dia akan lebih mempertanyakan tentang diri sendiri. Berondongan… Tanya pun menerobos bilik-bilik jantung, “siapakah aku? Apa yang telah aku miliki, segala persiapan apa yang telah kusediakan ?

sanggupkah aku meniti masa depan dan menyongsong hari-hari letih selanjutnya? Apalagi nanti kalau sudah punya momongan ?”

Perempuan pada fase ini nggak begitu selektif menilai siapa yang datang, nggak banyak bertanya apalagi menuntut. Mereka sudah kalah dengan pertanyaan mengenai kesiapan diri sendiri, siapakah aku?’


Masa kedua yaitu 25-29 tahun, suatu masa saat seorang wanita telah mandiri. Usaha yang dirintis memberikan kenikmatan sendiri baginya, kemandirian dan kematangan sudah menjadi menguatkan jiwanya. Rasa percaya diri pun menebal. Ketika seorang pemuda mengajukan ikatan cinta, pertanyaan mengalir deras, “Siapakah yang berani menawarkan masa depan? Bagaimana kemapanannya? Apakah aku akan tetap memperoleh kebahagiaan bersama pria itu?”

Pada situasi ini wanita lebih jeli menilai calonnya. Berani berspekulasi dengan ruang dan waktu. Mumpung lagi pede!


Masa ketiga pada masa usia kepala tiga, seorang wanita sangat labil ketika hal-hal yang berbau pernikahan lewat di hadapannya. Pada usai saat matang nggak jua ada seorang arjuna yang menoleh kepadanya. Sementara daya hidup yang dijalani mulai dihantui perasaan kekurangan.

Sebagai perempuan ia merasa nggak sempurna tanpa keluarga tercinta. Pada situasi beginilah dia akan sikat habis siapa saja yang datang, Nyaris tanpa pikir panjang, lekas menyambar tawaran yang masuk. Pertanyaannya bukan lagi siapa aku atau siapa dia, namun berubah drastic menjadi “Siapa aja, deh?”

Pada kondisi terakhir kita melihat begitu banyak fenomena yang mengiris hati. Ada keperihan yang merajam kepekaan. Betapa panjang deretan ihkwan yang ngga siap diri untuk bersegera, padahal wanita merupakan jiwa-jiwa yang rentan. Apalagi banyak dari kalangan akhwat yang telah berumur lebih dari 30 tahun, bayangkan….

Siapa lagi yang akan mereka dampingi selain para ikhwan itu sendiri. Dengan kondisi yang demikian sangat mungkinkan kita bakal kehilangan kader yang baik. Rumus, Siapa aja, deh !” membuka peluang besar mereka bersanding bersama orang yang nggak sefikrah, hanya dengan alasan demi menjaga kesucian diri.

Read More.. »»
Template by - Abdul Munir - 2008
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA8UQ-7ybXgcmVXgtbqz03xPDoNfLrQyhxy1z6HPjN_tjjppOmL0AdxF9KK6sRwdAry2UAgt4ZSF39yleGBL2BYSZCf-xbeS0BY6JLoAXSeDdor4nuHSsy_4SuKDZ64YGS0U6pwJ_mmmc7/s1600-h/Tilmiz6.png